Sebagian
penduduk sedang sibuk mempersiapkan festival di pantai untuk merayakan
hari ulang tahun Kota Palu. Lapak-lapak pedagang sudah berjajar di
sepanjang pantai, siap menjual beragam penganan, mulai dari camilan
gorengan hingga mi. Di antara mereka adalah putri Irma yang menitipkan
anak-anaknya ke sang nenek sehingga dia bisa menikmati perayaan malam
itu.
Matahari mulai tenggelam sehingga teriknya perlahan pudar, berganti dengan sejuknya malam.
Sekitar
16 kilometer sebelah selatan dari pesisir Kota Palu, para remaja dari
sekolah menengah atas asal Kecamatan Sigi Biromaru sedang berada di
Gereja Jono Oge untuk mengikuti kajian Alkitab.
Rencananya malam itu mereka akan bersantap bersama, mengadakan permaianan kelompok, dan menonton film sebelum pergi tidur.
Di
Kelurahan Petobo, Ersa Fiona yang berusia 21 bulan sedang bermain
dengan kakaknya, Chandra Irawan, 11, sementara sang ibu sedang sibuk
mengurus adik mereka yang paling kecil.Kisah warga Petobo yang selamat
dari likuifaksi: Piring-piring utuh, laptop masih bisa hidup
‘Tuhan tolong beri petunjuk di mana anak saya’: usaha mencari orang tercinta dalam gempa Palu
Gempa mengguncang
Pada
pukul 18.02 WITA, bencana terjadi. Tanah yang mereka injak tiba-tiba
berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan
bangunan-bangunan ambruk.
Gempa
berkekuatan 7,4 pada skala Richter telah melanda Palu di Sulawesi
Tengah. Gempa ini bukanlah yang pertama, tapi inilah yang terkuat.
Di
Kelurahan Petobo, tempat Ersa Fiona sedang bermain, tanah seketika
berubah seperti lumpur hisap. Kakaknya, Chandra Irawan, menarik
tangannya dan mereka langsung berlari.
Di
kawasan lain, sejumlah penyintas mengatakan mereka dikejar gelombang
lumpur yang melahap bangunan dan menyeret manusia ke dalamnya.
Gereja tempat lebih dari 80 pelajar sedang mengikuti kajian Alkitab, bergerak sejauh 2 kilometer dari tempat asalnya.
18.05 WITA
Lima
menit kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
merilis peringatan tsunami. Lembaga itu mewanti-wanti gelombang laut
akan mencapai 0,5 sampai tiga meter. Antara tiga hingga enam menit
berikutnya Kota Palu diterjang ombak setinggi enam meter.
Masyarakat
setempat hanya punya waktu 10 menit, dari saat gempa mengguncang sampai
tsunami menerpa, untuk melarikan diri ke tempat tinggi.
Tatkala Nur menyaksikan gelombang tinggi menunju rumahnya di pesisir, dia menarik dua anaknya dan berlari.
“Kami
lari menyelamatkan diri, gelombangnya mengejar kami. Kami dan gelombang
seperti balapan. Saya tidak pakai sepatu dan kaki saya berdarah-darah.”
Gempa
tersebut ternyata juga merusak jaringan listrik dan komunikasi. Itu
artinya banyak orang, termasuk Nur, tidak menerima peringatan tsunami.
Indonesia sebenarnya punya sistem deteksini dini tsunami, namun “sangat terbatas”.
Kepala
Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan kepada BBC
News Indonesia bahwa dari 170 sensor gempa yang dimiliki BMKG, anggaran
pemeliharaan hanya ada untuk 70 sensor.
Bahkan,
perangkat pemantau ombak terdekat dengan Palu, yang mendeteksi tsunami
ini, berada sejauh 200 kilometer. Dan perangkat itu hanya bisa
mendeteksi kenaikan ombak setinggi 6cm, yang saat itu dinilai “tidak
signifikan”.Pendeteksi tsunami ratusan miliar rusak, peringatan bencana
tidakakurat’
Alat deteksi tsunami terbatas, pemerintah bantah anggaran minim
terungkap, semua buoy untuk peringatan tsunami di Indonesia rusak
Apa yang menyebabkan gempa?
Gempa
disebabkan oleh lempengan bumi yang saling bertumbukan satu sama lain.
Ini terjadi secara konstan, namun kadang tumbukannya cukup besar dan
relatif dekat dengan area padat penduduk sehingga menimbulkan
konsekuensi parah.
Pada
28 September di Palu, getaran-getaran kecil terjadi sepanjang hari,
namun gempa 7,4 pada skala Richter berlangsung saat Patahan Palu Koro
yang melintasi Kota Palu, bergeser sekitar 10 kilometer di bawah
permukaan tanah.
Sejak
saat itu, ada sedikitnya 500 gempa susulan di Palu, yang sebagian besar
di antaranya tidak dirasakan warga. Wilayah Indonesia sangat berpotensi
terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga
lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan
Pasifik.Likuifaksi: Ketika tanah di Kota Palu dan sekitarnya tiba-tiba
‘ambles’
Palu: Kondisi sebelum dan sesudah gempa termasuk di Petobo dan Balaroa
Tsunami sudah menerjang Indonesia sejak tahun 416
Patahan Palu Koro jadi pelajaran untuk mitigasi bencana
Selain berada di antara lempeng-lempeng utama dunia, posisi Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire)
yaitu daerah ‘tapal kuda’ sepanjang 40.000 km yang sering mengalami
gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra
Pasifik.
Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.
Apa yang menyebabkan tsunami?
Bagaimana
bisa kenaikan permukaan laut setinggi 6cm, yang dideteksi BMKG setelah
gempa, bisa membentuk gelombang setinggi 6 meter? Itu karena bentuk
Teluk Palu.
Wujudnya yang panjang dan menyempit menyebabkan kecepatan dan tinggi gelombang semakin bertambah saat menuju Kota Palu.
Saat
pertama menerjang, tsunami merontokkan Jembatan Ponulele yang
menghubungkan Palu Timur dan Palu Barat. Mengambil nama mantan Gubernur
Sulawesi Tengah, Aminuddin Ponulele, jembatan kuning itu merupakan ikon
Kota Palu. Kini, sebagian jembatan tersebut roboh dan tenggelam.
Gelombang
tsunami menerjang bagian ujung Teluk Palu, kawasan yang paling banyak
dihuni penduduk di Kota Palu dan seluruh Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data statistik Pemkot Palu, ada 374.000 yang tercatat bermukim di kota tersebut pada 2016.
Tayangan
video yang diambil dari Palu Grand Mall menggunakan sebuah telepon
seluler, memperlihatkan air di tepi pantai surut beberapa meter menuju
lautan lepas. Beberapa menit kemudian, air keruh mengelilingi kawasan
tersebut seraya menyeret mobil dan pohon. Video di bawah didapat dari
juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo
Nugroho.
Gelombang tsunami juga melahap seluruh desa-desa nelayan serta sebagian besar infrastruktur.
jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.073 orang. Kebanyakan meninggal akibat tsunami, menurut BNPB.
Selain itu, sebanyak 10.679 orang cedera, 680 orang hilang, dan 82.775 menjadi pengungsi.
Tidak ada korban yang ditemukan dalam keadaan hidup sejak pencarian memasuki hari ketiga.
Siapa yang membantu Indonesia?
Ketika
bencana terjadi, pemerintah Indonesia tidak serta-merta menerima
bantuan asing. Namun, Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan menerima
bantuan internasional beberapa hari kemudian, setelah skala kerusakan di
Sulawesi Tengah lebih jelas.
Ada
sejumlah negara yang menawarkan bantuan dalam bentuk uang tunai maupun
barang. Secara kolektif, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan
Selandia Baru, berikrar memberikan US$20,8 juta, menurut Departemen Luar
Negeri Australia pada 10 Oktober
Menyalurkan
bantuan pokok ke daerah terdampak bencana terbukti menjadi tantangan
lantaran penerbangan ke Kota Palu amat terbatas, mengingat sebagian
landasan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri rusak.
Hal
ini membuat para relawan dan pekerja kemanusiaan harus mencapai Kota
Palu melalui jalur darat yang melelahkan. Bahkan, akses ke Donggala
terputus sehingga bantuan baru bisa disalurkan beberapa hari setelah
bencana menggunakan helikopter.
Selang
beberapa hari kemudian, di tengah aksi kemanusiaan sedang berlangsung,
pemerintah Indonesia merilis aturan yang menyebutkan bahwa “bagi NGO
asing yang sudah telanjur menerjunkan relawannya tetapi tidak memiliki
izin, diimbau untuk menarik relawan dari wilayah terdampak bencana”.
Pengumuman itu memicu keprihatinan bahwa kemampuan NGO dalam menyalurkan bantuan kini terhambat.
Bagaimanapun,
juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, berkeras LSM internasional
harus tetap mengikuti prosedur yaitu melapor terlebih dahulu melalui
Kementerian Luar Negeri.
“Tidak
ada ruginya (relawan berdatangan), asal sesuai dengan persyaratan. Apa
sih susahnya lapor? Izin?” kata Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho
dengan suara meninggi dalam jumpa pers di Graha BNPB Jakarta, Kamis
(11/10).
Secara
terpisah, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan keputusan
melarang lembaga asing terjun langsung ke kawasan bencana di Palu dan
Donggala tidak dimaksudkan untuk mencegah masuknya bantuan dan relawan.
“Akan
tetapi untuk memastikan bahwa mereka terlebih dahulu melakukan
koordinasi dengan lembaga terkait di Indonesia yang memimpin upaya
penyelamatan dan pemulihan,” kata juru bicara Kemenlu Indonesia,
Arrmanatha Nasir kepada BBC News Indonesia.
Menurutnya,
koordinasi seperti itu sangatlah penting, sehingga nantinya dapat
dipastikan kehadiran ormas dan relawan asing itu tidak justru menghambat
upaya penyelamatan dan pemulihan.
Komentar
Posting Komentar